Senin, 10 Dec 2018
radarmadura
 
icon featured
Esai
Catatan Katerbi’an Carpan Tora

Sastra Madura Tidak Mati, tapi Sepi

Oleh: N. Shalihin Damiri*

Minggu, 25 Mar 2018 18:36 | editor : Abdul Basri

PEDULI BUDAYA: Dari kiri, Syaf Anton Wr., D. Zawawi Imron, Jamal D. Rahman, Lukman Hakim AG., dan GM JPRM Moh. Tojjib dalam peluncuran buku Tora; Satengkes Carpan Madura di STKIP PGRI Sumenep, Rabu (21/3).

PEDULI BUDAYA: Dari kiri, Syaf Anton Wr., D. Zawawi Imron, Jamal D. Rahman, Lukman Hakim AG., dan GM JPRM Moh. Tojjib dalam peluncuran buku Tora; Satengkes Carpan Madura di STKIP PGRI Sumenep, Rabu (21/3). (VIVIN AGUSTIN HARTONO/Radar Madura/JawaPos.com)

LUKMAN Hakim AG, editor Tora, mengawali paparan tentang sastra Madura dengan kalimat puitis bahwa sastra Madura tidak mati, tapi sepi. Ungkapan itu dinyatakan dalam acara peluncuran buku di Aula STKIP-PGRI Sumenep, Rabu (21/3). Tora menjadi salah satu bukti, sebagai penanda bahwa sastra berbahasa Madura masih hidup. Dalam acara yang berdurasi sekitar 4 jam itu, bahasa Madura dimuliakan tidak hanya sebagai bahasa tulisan (ditandai dengan peluncuran Tora), tetapi juga percakapan berbahasa Madura sepanjang acara.

Dari acara bertajuk Katerbi’an tor Pangajiyan itu, ada beberapa catatan yang menurut saya perlu direnungkan. Catatan ini semacam ikhtiar merangkum kesimpulan diskusi agar tidak hanya menjadi acara formalitas saja; diikuti, dibahas, dan dilupakan.

Pertama, masalah penyeragaman aksen dan istilah. Bagaimanapun, bahasa Madura terdiri dari berbagai aksen kedaerahan, langgam, dan istilah yang beragam. Jangankan antarkabupaten, antardesa saja banyak yang berbeda. Contoh gampangnya kata kake, ba’na, dika, ba’en, ba’eng. Jadi, aksen mana yang harus dipakai dan diakui sebagai bahasa Madura resmi, juga istilah daerah mana yang benar?

JPRM (Jawa Pos Radar Madura) sebagai koran yang mewadahi cerpen berbahasa Madura memberikan ruang berekspresi sebebas-bebasnya. Kak Lukman dari pihak JPRM, mengaku tidak terlalu memusingkan masalah tersebut. Intinya baik dalam penulisan, sesuai kaidah bahasa Madura, maka JPRM akan memuat. Kita harus mengapresiasi baik hal itu sebagai usaha menghargai setiap karya berbahasa Madura. Menyatukannya dalam satu aksen dan istilah justru akan mematikan bahasa Madura itu sendiri. Bukankah semakin banyak aksen dan istilah baru yang diketahui dan dipublikasikan, maka bahasa Madura akan makin kaya?

Menurut saya, jawaban Mas Lukman sudah tepat. JPRM tidak perlu mematok aksen tertentu sebagai acuan. Penulis bebas berekspresi sesuai logat daerah masing-masing sekaligus istilahnya. Jika masih memilih dan memilah logat dalam pemuatan, khawatir bahasa yang berkembang hanya dari satu daerah saja. Dalam hal ini, D. Zawawi Imron menegaskan bahwa tidak ada bahasa (aksen/logat) suatu kabupaten yang lebih baik dari kabupaten lain. Perbedaan aksen dalam satu bahasa tidak hanya terjadi dalam bahasa Madura. Bahasa Inggris sekalipun juga demikian.

Saya sendiri, di awal keseriusan menyelami sastra Madura, juga mengalami kendala dan pertanyaan yang sama, yakni perkara aksen dan istilah. Namun, kegelisahan saya terjawab ketika cerpen pertama saya (Paraban Sorop Are) dimuat. Saya kemudian berpikir bahwa JPRM memang ingin menggalakkan tulisan berbahasa Madura tanpa mempermasalahkan aksen daerah tertentu.

Jika kenyataan yang ada adalah banyaknya aksen Sumenep yang muncul, menurut saya bukan karena JPRM berat sebelah dalam pemuatan, tetapi karena memang penulis yang mengirimkan karyanya rata-rata dari daerah tersebut. Kita harus mengakui hal itu. Mari berhenti menimbun kecemburuan dan mulailah menulis.

Saya beruntung karena mewakili Sampang dalam hal pesta Tora ini. Bersama Mudhar CH yang juga dari Sampang, setidaknya kami telah sedikit menyumbang aksen khas Sampang dalam kancah sastra Madura. Juga, sebagai pernyataan bahwa penulis sastra Madura dari Sampang masih ada dan akan terus berlahiran.

Kedua, yang perlu menjadi perhatian adalah media dan apresiasi. Perlu diakui bahwa media yang menampilkan bahasa Madura masih sangat minim, ditambah minimnya apresiasi. Sastra Madura akan semakin terpuruk jika kekurangan wadah apresiasi, tentu saja. Kehadiran JPRM dalam mewadahi cerpen dan puisi berbahasa Madura patut diapresiasi.

Selanjutnya, karena saat ini jenis media sangat beragam, maka bergantung pada media cetak menurut saya adalah kekeliruan fatal. Sudah semestinya ada upaya publikasi melalui media siber. Penulis Madura perlu membuat laman website sendiri yang fokus dalam pemuatan tulisan berbahasa Madura. Boleh esai, cerpen, puisi, ulasan buku, dan semua hal yang memakai bahasa Madura. Misalnya, untuk sekadar saran, bernama cator.co.

Kita juga perlu ikut meramaikan, misal dengan membuat akun khusus berbahasa Madura. Rata-rata akun media sosial Madura yang ada hanya memasarkan wisata atau informasi kejadian dengan keterangan memakai bahasa Madura ala kadarnya—jika tidak mau berkata sembarangan. Setidaknya, akun media sosial tersebut berperan sebagai badan kebahasaan yang bertugas memberikan informasi penulisan bahasa Madura yang benar, pemuatan istilah-istilah dan semua hal yang berkaitan dengan literasi.

Dalam hal apresiasi, kita bisa mencontoh acara peluncuran buku Tora yang sepanjang acara—pemandu, paparan narasumber dan diskusi—memakai bahasa Madura. Memang, tidak semua acara harus dipaksakan berbahasa Madura, namun mengesampingkan bahasa Madura dalam banyak acara juga tidak baik. Bukankah kita sering menyaksikan acara yang dipandu dengan multibahasa—Indonesia, Inggris dan Arab—tetapi melupakan bahasa Madura di tanahnya sendiri?

Apresiasi lainnya yang perlu kita harapkan adalah pengadaan lomba penulisan dan penganugerahan karya berbahasa Madura. Kita bisa berkaca pada Sastra Rancage untuk hal ini.

Ketiga, tidak semua kata dan istilah luar harus di-Madura-kan. D. Zawawi Imron, salah satu narasumber, yang menyatakan hal itu. Jamal D. Rahman mengamini ungkapan tersebut dengan memberi beberapa contoh kosa kata berbahasa Indonesia yang tidak ada dalam bahasa Madura. Menurut saya, sepanjang ada padanan katanya, hal itu sah-sah saja. Namun, memaksakan semua kata dan istilah luar di-Madura-kan adalah tindakan keliru, sebab akan menghambat perkembangan dan kekayaan bahasa Madura itu sendiri.

Demikian beberapa catatan penting dari gelaran Katerbi’an tor Pangajiyan Satengkes Carpan Madura. Intinya, mari terus berupaya melestarikan sastra Madura! Ngereng ajung-rojung! 

*Aktif di Majelis Sastra Kun. Santri Pesantren Sidogiri asal Camplong, Sampang.

(mr/*/bas/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia