Rabu, 17 Oct 2018
radarmadura
icon featured
Resensi

Menggugah Rasa Mengetuk Akal

Minggu, 11 Mar 2018 14:57 | editor : Abdul Basri

Menggugah Rasa Mengetuk Akal

TULISAN-tulisan D. Zawawi Imron lebih mudah dirasakan daripada dipikirkan. Kumpulan sajak-sajaknya yang baru diterbitkan bersama Shamsudin Othman ini juga menggugah hati nurani pembaca. Buku ini membuat pembaca terenyuh dan menangis. Tulisannya bukan berasal dari pemikiran yang dialektis, namun dari hati yang paling dalam.

Buku ini merupakan kumpulan puisi karya Shamsudin Othman dan Zawawi Imron, penyair ternama dua negara, Malaysia dan Indonesia. Zawawi pernah meraih Hadiah Sastra Asia Tenggara atau South East Asia Write Award 2011. Sementara Shamsudin meraih penghargaan Hadiah Sastera Johor Darul Takzim IX tahun 2013.

Kumpulan puisi dua negara ini memperlihatkan pertautan antara pemikiran dan perasaan. Berbeda dengan Shamsudin yang lebih dikenal dengan latar intelektualitasnya, Zawawi menulis penuh dengan perasaan. Sementara Shamsudin cenderung menggunakan simbol ketuhanan dengan nalar intelektualitas tinggi. Ia banyak menulis tentang hubungan antara manusia dan Tuhan. Dalam judul Taman Diri, misalkan, Shamsudin menggunakan kata aku, roh, dan jasad (hlm 11).

Zawawi Imron memiliki imaji yang kaya dan mengalir dari alam bawah sadarnya. Ini yang tak dimiliki penyair lain, termasuk Shamsudin. Dengan imaji tersebut, Zawawi selalu dapat membuat hati pembacanya tersentuh. Dalam puisi Sapiku misalkan, gambar sapi kerapan yang menjadi sejarah masyarakat Madura dihidupkan Zawawi dalam citra yang baru. Kebanyakan orang tidak menyangka, di tangan Zawawi, sapi menjadi simbol abadi masyarakat Madura.

Dalam puisi yang berjudul Zikir, Zawawi menggugah pembaca dengan sebuah kata: Alif. Kita perlu tahu bahwa simbol alif ini merupakan simbol ketuhanan yang sempurna. Ketika disuarakan berulang-ulang oleh Zawawi, alif terdengar di mana-mana. Dalam relung hati yang paling dalam, orang mengira bahwa pada hakikatnya semesta adalah alif yang terurai.

Di sisi lain, celurit tajam yang konotasinya cenderung negatif digambarkan Zawawi sebagai kebanggaan tradisi Madura. Simbol celurit sebagai alat untuk membunuh diganti dengan simbol yang mengangkat ketajaman akal. Zawawi berpendapat bahwa celurit itu adalah ”emas” (hlm 111).

Zawawi kurang tahu persis mengapa sampai menulis puisi. Namun, setiap ada getaran-getaran dalam dirinya, ia merasa tidak enak kalau tidak menuliskannya. Misalnya ketika dalam perjalanan tidak membawa alat tulis dan kertas, ia merasa sangat menyesal. Dengan berpuisi, ia merasa lebih akrab dengan diri sendiri, orang lain, alam, dan Tuhan.

Pohon siwalan (tarebung), sapi, saronen (musik tradisional Madura), dan laut turut serta mengilhami gubahan-gubahan puisi Zawawi. Fenomena alam itulah yang membuat Zawawi peka. Hatinya tergerak untuk selalu menuliskan puisi dengan rasa mendalam. Latar belakang pendidikan yang rendah dan pengetahuan filsafat yang sepotong-potong turut memengaruhi syair-syairnya. Puisi berjudul Di Bawah Matahari merupakan gambaran Zawawi terhadap orang Madura yang sedang naik pohon siwalan. Ia menggambarkan betapa indah pekerjaan masyarakat Madura: di sini daun-daun siwalan/ adalah kipas yang mengibaskan angin/ bagi kehidupan (hlm 117).

Salah satu faktor yang membuat puisi Zawawi ”enak” dirasakan adalah ia berpuisi bukan untuk mengejar popularitas dan finansial, melainkan sebatas mengekspresikan diri dan berkomunikasi. Bahkan, Zawawi banyak meminta nasihat teman-temannya agar tidak terperosok ke dalam dunia popularitas yang pada hakikatnya tak ada gunanya.

Sastra yang tinggi adalah sastra yang membuka dirinya kepada hakikat kehidupan. Hakikat kehidupan tidak hanya tertuju pada dunia semata, namun lebih mengarah pada hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhan. Hal ini sebenarnya yang menjadi tujuan dan perjuangan kedua penyair dalam buku ini, Zawawi Imron dan Shamsudin Othman.

Menurut Zawawi, sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia yang lain. Sebab, manusia yang tidak memberikan manfaat, ia tidak bernilai. Sebagaimana pernyataan Zawawi dalam judul puisi terakhirnya yang menggugah rasa, dubur ayam yang mengeluarkan telur/ lebih mulia dari mulut intelektual/ yang hanya menjanjikan telur. (*)

MAHMUDI

Dosen Institut Ilmu Keislaman Annuqayah Guluk-Guluk, Sumenep.

KUNCI:

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia