Rabu, 12 Dec 2018
radarmadura
icon featured
Resensi

Pilkada Serentak dan Refleksi Memilih Pemimpin

04 Maret 2018, 17: 40: 47 WIB | editor : Abdul Basri

Pilkada Serentak dan Refleksi Memilih Pemimpin

MEMBICARAKAN kondisi bangsa Indonesia memang tak ada habisnya. Pelbagai isu terus muncul, media terus mengabarkan problem kebangsaan, pejabat, tokoh-tokoh, dan para cendekiawan terus memunculkan wacana, dan masyarakat hidup di tengah ingar-bingar informasi tersebut. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang pesat menyebabkan banjir informasi dan mengharuskan setiap orang memiliki kecerdasan dalam mencerna setiap informasi, agar pandangan tak menjadi kabur sehingga bisa melihat segala persoalan secara jernih.

Buku Indonesia Apa Adanya ini bisa menjadi gambaran kondisi masyarakat saat ini. Di dalamnya disuguhi kutipan-kutipan yang pernah diungkapkan budayawan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) terkait pelbagai permasalahan bangsa ini. Lewat ungkapan-ungkapannya, Cak Nun membekali bekal membangun kejernihan berpikir.

Cak Nun menyuguhi pelbagai perumpamaan dan ungkapan yang merangsang pembaca untuk berpikir secara sehat dan jernih. Sebab, dewasa ini masyarakat memang cenderung sulit mendapatkan sandaran atau referensi yang valid dalam menilai banyak hal.

Cak Nun melihat cara pandang masyarakat yang belakangan mudah dibiaskan oleh kesan, interpretasi, dan pencitraan. Akibatnya, karena guyuran pencitraan berlebihan di era informasi sekarang, orang menjadi terjerumus dalam pemujaan berlebihan atau kebencian berlebihan terhadap orang atau sesuatu. Jiwa manusia sepuluh tahun terakhir ini dipenuhi dan dikuasai oleh cinta yang berlebihan dan benci yang berlebihan. Kebencian pada orang yang tak tepat, luapan cinta juga pada sesuatu atau tokoh yang tak tepat. Wajah-wajah sudah ditopengi, kata-kata sudah dibalik maknanya, industri dan media pencitraan sudah hampir total memalsukan segala keadaan.

Bisa dikatakan, kondisi tersebut tak bisa lepas dari era informasi yang membuat setiap orang, siapa pun itu, dengan kompetensi apa pun, mudah mendapatkan informasi dari sumber apa pun, kemudian dengan mudah pula ikut melontarkan pandangan. Di media sosial misalnya, kita mudah mendapatkan beragam informasi, entah dari sumber kredibel atau tidak, kemudian mudah mengungkapkan pandangan dan berekspresi secara bebas melalui media sosial. Dari sana, kearifan, moral, etika, dan kejernihan berpikir menjadi tergerus, sehingga pandangan akan mudah digiring dan diarahkan untuk tujuan-tujuan tertentu.

Memilih Pemimpin

Terkait hal tersebut, salah satu hal yang banyak menjangkiti masyarakat saat ini adalah ketidakmampuan membedakan siapa tokoh, siapa pemimpin. ”Kita hidup di tengah-tengah kebudayaan masyarakat yang hampir padam penglihatannya untuk memilih siapa tokoh, siapa idola, siapa ulama, dan siapa pemimpin,” kata Cak Nun. Ketidakmampuan mengklasifikasikan dan membedakan tersebut kemudian memunculkan orang-orang yang menduduki pelbagai posisi jabatan di negeri ini, namun sama sekali tidak sesuai dengan kapasitas, kompetensi, dan kemampuan yang dimilikinya.

”Sekarang ini di Indonesia, siapa saja bisa menjabat apa saja, bisa dijadikan bukan apa-apa. Bukan apa-apa bisa dijadikan apa-apa. Perkara tidak diperkarakan, bukan perkara diperkarakan. Salah dibenarkan, benar disalahkan”. Ungkapan tersebut sangat relevan dijadikan bahan refleksi saat ini, terlebih kita memasuki tahun politik yang sebentar lagi akan ada Pilkada serentak 2018 serta Pilpres tahun depan. Di sini, kemampuan melihat dan menilai seseorang secara tepat menjadi sangat menentukan: apakah pesta demokrasi tersebut bisa menghasilkan pemimpin yang benar-benar berkompeten dan siap mengabdi untuk masyarakat atau justru sebaliknya; menghasilkan pemimpin yang hanya menyengsarakan rakyat.

Berkali-kali kita diingatkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa besar dengan segala kekayaan alam dan budayanya. Namun, jika kursi-kursi pemimpin di negeri ini diisi orang-orang yang hanya mementingkan harta benda, kekayaan alam tersebut tak akan ada artinya. Alih-alih menjadi berkah dan memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi rakyat—sebagaimana amanat undang-undang, kekayaan bumi malah bisa menjadi petaka jika dikelola tangan-tangan yang hanya memikirkan materi dan keuntungan. ”Kekayaan bumi adalah malapetaka bagi bangsa yang mengagamakan harta benda,” kata Cak Nun.

Masih ada pelbagai kutipan Cak Nun yang didokumentasikan di buku ini. Pelbagai tema, mulai dari masalah kebangsaan, keindonesiaan, problem sosial, ekonomi, dan renungan keislaman dapat kita temukan di dalamnya. Dari sana, kita bisa merenung, berefleksi, dan belajar membangun cara pandang yang jernih dalam melihat segala hal, termasuk dalam menilai dan memilih pemimpin di tengah ingar-bingar segala persepsi, kesan, dan pencitraan di era informasi saat ini.

AL-MAHFUD

Lulusan Tarbiyah STAIN Kudus

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia