Kamis, 18 Oct 2018
radarmadura
icon featured
Esai

Puisi Biologi; Hibrid Sastra dan Biologi (2)

Oleh: Hidayat Raharja*

Minggu, 18 Feb 2018 19:14 | editor : Abdul Basri

Facebook Hidayat Raharja

Facebook Hidayat Raharja

DI Indonesia, terutama di lembaga pendidikan umum, tak banyak yang memanfaatkan puisi sebagai media untuk memberikan pemahaman matematika, fisika, kimia, dan semacamnya. Dalam hitungan jari, di antaranya ibu Das Salirawati telah memanfaatkan puisi untuk  memberikan penguatan terhadap konsep kimia yang dipelajari. Apa yang dilakukan Das Salirawati dalam menyederhanakan konsep Katalis dapat dibaca pada kutipan berikut:

Andai …

Hadir katalis dalam asmara jiwaku

Pastikan kini dia telah jadi kekasihku

Tanpa harus keluarkan energi tuk merayu

(dikutip dari buku Belajar Kimia secara Menarik oleh Das Salirawati, dkk. Penerbit Grasindo, 2007)

Puisi yang merekam peran katalis, senyawa yang dapat mempercepat reaksi kimia ke dalam bentuk puisi berirama. Puisi yang didekatkan kepada hubungan kekasih dua remaja yang tengah jatuh cinta. Maka, bahasa sains yang kaku beralih menjadi bahasa remaja yang kadang terasa melankolis dan jenaka.

Sebagaimana fungsi katalis mempercepat dan menurun dan energi aktivasi. Maka katalis percintaan itu akan mempermudah untuk menyatu tanpa harus kehilangan banyak energi untuk merayu. Konsep kimia yang rumit menjadi sederhana. Konsep yang sulit dipahami menjadi lebih mudah, sehingga konsep yang abstrak menjadi konkret.

Beberapa puisi biologi dapat ditemukan di Biologycorner.com. Teks yang menegaskan bahwa puisi sebagai ilmu dapat menjadi media untuk menyampaikan konsep-sains. Puisi yang memadukan estetika tanpa melupakan konsep keilmuan yang ingin disampaikan.

Tengsoe Tjahjono, menjelaskan, bahwa puisi bisa menjadi sublim atas kompleksitas peristiwa. Puisi bisa merangkum persoalan yang banyak menyita berlembar halaman buku ketika dituliskan menjadi lebih singkat dan padat tanpa harus kehilangan amanat atau pesan maupun konsep yang ada di dalamnya.

Pergelutan dengan konsep-konsep biologi dan kesukaan terhadap puisi yang kemudian memicu untuk melakukan hibrid antara konsep biologi dengan unsur puitika, sehingga mendapatkan varian baru puisi yang memuat konsep-konsep biologi. Sebuah puisi yang mengandung konsep biologis. Dari sisi puitika terdapat nilai-nilai puitik, rima, diksi, dan makna baik secara konotatif ataupun secara denotatif.

Persilangan yang tidak mudah. Sebab, adakalanya puisi dibebani oleh makna biologis yang menghilangkan kekuatan puitikanya. Di sisi lain, jika terlalu condong kepada puitikanya, esensi biologinya bisa tak teraih. Maka, peran kreativitas dan keberanian untuk mencoba dan melakukan editing secara berulang akan didapatkan puisi biologis yang diinginkan.

Hibridisasi adakalanya menghasilkan varietas baru yang unggul, elok, dan tahan terhadap berbagai gangguan. Namun, kala lain mendapatkan keturunan yang jelek dan mandul. Juga dalam hibrid puisi dengan biologi, sangat terbuka kemungkinan dihasilkan sebuah varian yang terasa janggal dan kehilangan unsur puitik serta juga kehilangan makna konseptual secara biologis. Tugas kritik untuk meluruskan situasi dan kondisi yang melengkapi kehadiran hibrid.

Kolaborasi antara biologi dengan para ilmuwan, dan seniman mempelopori penemuan-penemuan baru dalam bidang biologi merupakan perkembangan yang telah lama berlangsung semenjak seni rupa menjadi bagian penunjang untuk memperjelas konsep-konsep biologi atau sains lainnya. Kolaborasi ini terasa kian kokoh, dan erat bersamaan dengan perkembangan rekayasa genetika dalam bidang biologi. Temuan yang merangsang kreativitas para seniman (artis) untuk melakukan kolaborasi dengan pakar genetika bisa menghasilkan sebuah karya monumental yang dikenal dengan karya ”Bio Art”. Sebuah karya yang menggabungkan antara ilmu biologi dengan bidang seni, sehingga menjadi sebuah varian yang bernilai estetis dan saintis.

Christian Bök’s penyair eksperimental dari Kanada dalam karyanya Xenotext; ”Chemical Alphabet” digunakan untuk menerjemahkan puisi ke dalam untaian DNA untuk diimplementasikan ke dalam genom bakteri (How art and science fuse in bio art, www.cnn.com, 6 Februari 2017).

When translated into  a gene and then integrated into the cell, the poetry constitutes a set of instructions, all of which cause the organism to manufacture a viable, benign protein in response. (Ketika diterjemahkan ke dalam gen kemudian disatukan di dalam sel, puisi diubah menjadi sebuah inatruksi yang membentuk sebuah perintah, dan direspons dengan protein yang baik).

Writes Boks: ”I am, in effect, engineering a life form so that it becomes not only a durable archive for storing a poem, but also an operant machine for writing a poem- one that  can persist on the planet until the sun itself explodes…” Percobaan Xenotext 4 April 2011. Bok mengumumkan terobosan signifikan dalam proyek 9 tahunnya untuk merancang bentuk kehidupan sehingga menjadi arsip-arsip yang tidak tahan lama untuk menyimpan sebuah puisi, tapi juga mesin operan untuk menulis sebuah puisi.

Terapan bioteknologi dengan sains. Hal semacam ini akan terus tumbuh dan berkembang seiring dengan perkembangan teknologi genetika yang akan menyertai kehidupan manusia. Sebuah puisi biologi yang memadukan antara rekayasa genetika dengan estetika puisi terhadap ekspresi makhluk hidup (bakteri). 

*)Penyuka puisi. Buku puisinya Kangean (2016). Mengajar di SMA Negeri 1 Sumenep.

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia