Radar Madura

Rumbalara Perjalanan, Jejak Kerinduan di Tanah Rantau

MENURUT data, hampir separo penduduk Madura merantau. Kebanyakan kalangan produktif dari segi otot dan otak. Sudah menjadi kata bertuah bahwa mereka yang merantau kebanyakan sukses. Kesuksesan acapkali melenakan sehingga membuat mereka enggan pulang kecuali hanya sebentar ketika Lebaran.

 

Bernando J. Sujibto adalah bagian dari mereka dengan satu pengecualian: dia berazam untuk selamanya tinggal di Madura. Azam ini baru terucap agak belakangan begitu dia mendapat pencerahan bahwa apa yang dia cari nyatanya ada di kampung halaman sendiri, petilasan yang sebelumnya diduga tidak menjanjikan nirwana. Dia juga sadar bahwa perantauannya selama ini ternyata keterasingan yang menyiksa.

Keterasingan ini/kutanggung sebagai kutukan/ antara jarak derak daun gugur/ dan tanah yang menyimpan akar/ aku telah sempurna tersandera liar/terlempar dari tanah kelahiran/ lorong-lorong tak menyimpan batas/ merayakan pesta demi pesta kepergian/ menuju entah/ o pesona yang menyiksa (hlm. 92).

Dia, serupa alasan perantau Madura lainnya, merantau untuk mendapatkan prospek hidup yang lebih bagus. Pertama dia singgah di Jogjakarta, kemudian Australia, Amerika, dan terakhir menetap dua tahun di Konya, Turki untuk menyelesaikan studi. Bernando berangkat dengan sedikit modal yang tak cukup, namun dengan semangat asapo’ angen abantal omba’.

Tentang kesan ketir perjuangan di rantau, Bernando tuangkan dalam serial puisi Ontel I, Ontel II, Ontel III, dan Ontel IV.

1
2
3

BERITA LAINNYA
Tulis Komentar