Radar Madura

Pendidikan dan Ideologi Kultural

TEMA kebhinnekaan dalam hidup berbangsa dan bernegara belakangan semakin gencar menjadi tebaran gagasan penting, bahkan darurat. Gagasan itu mengacu pada kondisi perkembangan sosial-politik mutakhir di Indonesia. Kebhinnekaan menjadi pertaruhan identitas sebagai bangsa yang dikaruniai keberagaman suku, ras, agama, dan bahasa.

Esai Achmad Faesol Pendidikan Kebhinnekaan di harian ini (12/03/17) mengajukan gagasan tentang banalitas peran pendidikan dalam turut serta merawat dan mengokohkan kesadaran budaya lokalitas. Itu sebagai keniscayaan hidup dan identitasnya yang tidak boleh luntur dan terkalahkan oleh kecenderungan budaya populer ”kebarat-baratan” belakangan ini.

Ahmad Faesol menginsafi kebhinnekaan sebagai pertaruhan karakteristik kultural dan identitas kebangsaan di antara berkah dan petaka budaya modern. Dalam konteks budaya dan sosial hari ini, gagasan seperti itu memang menarik dan sering dikemukakan di ruang-ruang publik. Tapi, sayangnya, Ahmad Faesol hanya menarasikan dengan sangat singkat dalam bahasan kurang mendalam.

Menjadi manusia Madura, sebagaimana ditulis Ahmad Faesol, adalah keniscayaan kodrati sebagaimana ayam akan tetap menjadi ayam meskipun ia berevolusi setengah mati untuk menjadi itik. Tamsil mendefinisikan Madura sebagai ideologi kultural benar-benar harus  dipertaruhkan dalam wujud rawat tradisi serta nilai-nilai kebudayaan yang sudah ada.

Eksistensi jati diri lokalitas (suku) memang sering kali mengundang kekhawatiran kita. Misalnya orang Madura yang lambat laun mengalami krisis kebudayaannya sendiri, baik itu berupa bahasa, adat istiadat, dan nilai-nilai budaya lainnya. Fakta seperti ini sebenarnya sudah lama menjadi wacana yang menarik perhatian banyak budayawan, akademisi, hingga pemerintah.

Harus diakui, upaya menguatkan kesadaran untuk melestarikan budaya lokal serta peran penting pendidikan di dalamnya tentu sangat beralasan bila kita melihat realitas interaksi sosial masyarakat kita belakangan ini. Kita bisa menilik kemajuan teknologi-informasi telah membawa masyarakat kita pada titik dampak yang justru kontradiktif antara nilai-nilai lokalitas dan buai hidup praktis. Maka perlu adanya strategi agar kecenderungan pola hidup modern masyarakat tidak merampas habis keluhuran budaya sendiri.

1
2
3

BERITA LAINNYA
Tulis Komentar