Radar Madura

Menikmati Jamuan Perempuan Madura

LAHIRNYA Perempuan Laut ini cukup syarat untuk dikategorikan sebagai suatu yang fenomenal. Sebab, sejauh perjalanan sastra, khususnya di bumi Madura, masih pertama dan masih satu-satunya buku yang hadir dengan sangat berani, di dalamnya hanya khusus memuat karya-karya perempuan.

 

Sebagaimana fitrah perempuan, ia selalu diposisikan sebagai makhluk nomor dua. Hal ini terjadi dalam segala lapis kehidupan, tanpa terkecuali dalam perjalanan dan perkembangan kesusastraan. Sejauh ini, yang tampak di permukaan dalam persinggungan sastra adalah geliat yang selalu saja diwakili penyair laki-laki, sehingga pegiat sastra perempuan kurang disoroti, diperhatikan, bahkan seakan sepi dari perbincangan.

Akan tetapi, Forum Bias yang dinakhodai penyair Syaf Anton, mencoba menjawab kegelisahan yang sangat lama mengakar ini. Ia berupaya mengangkat martabat penyair-penyair perempuan Madura. Sebagai salah satu implementasinya dengan antologi ini. Baginya, persoalan sastra di Madura bukan sekadar dominasi sastrawan atau penyair laki-laki yang masif memberikan angin segar dalam percaturan sastra tanah air. Di balik semua itu, sebenarnya perlu pula disadari bahwa penyair perempuan Madura telah berusaha bergeliat tak kalah dahsyat sebagaimana tergambar dalam karya-karya mereka.

Buku 123 halaman ini memuat 100 puisi yang dilahirkan sepuluh perempuan berdarah Madura. Sejumlah sajak secara umum dapat dipahami mereka ingin menampilkan bagaimana suara perempuan. Terlebih karena dominan penyair dalam buku ini adalah asli berdarah Madura. Maka, puisi-puisi dalam antologi ini, garam-gula yang mereka suguhkan sangatlah terasa beraromakan Madura.

Hal ini dapat kita simak misalkan pada petikan puisi Weni Suryandari: debur ombak di batu karang, pecah seribu impian/ saat tanah darahku memenara dalam kabut kota/ sementara tubuhku adalah tempatmu menjaring kehidupan/ pantai yang meninggalkan kesedihan (hlm. 2). Tanpa mengurangi kedalaman makna yang penyair maksudkan, sajak ini menunjukkan penyatuan penyair dengan tanah kelahiran, yakni tanah pesisir (karena sebagian penghasilan utama masyarakat Madura adalah melaut), benar-benar tak dapat ia tukar dengan sesuatu yang bernilai apa pun. Sebagaimana ia abadikan dalam sajak ini, dalam kondisi seperti apa pun, walaupun kebetulan penyair satu ini, saat ini tidak menjalani hidup di Madura. Tapi lewat sajaknya, ia suarakan akan tetap memilih dirinya sebagai perempuan laut.

1
2
3

BERITA LAINNYA
Tulis Komentar