Radar Madura

Kambing Hitam dan Kebangkitan Sastra Madura

KEKHAWATIRAN terhadap kepunahan bahasa dan sastra daerah sudah lama menggelinding. Sejumlah pihak tak segan untuk menuding sana sini untuk mencari penyebab. Generasi muda selalu dibentur-benturkan sebagai kambing hitam.

Para pemuda disebut enggan merawat dan melestarikan bahasa ibu. Mereka seolah jadi generasi celaka karena tidak mau meneruskan warisan luhur nenek moyang. Perkembangan zaman beserta segala perangkatnya dianggap jadi pemicu mereka meninggalkan akar kebudayaan.

Benarkah demikian? Apa parameter yang digunakan untuk menyebut generasi muda dicap malu dan gengsi berbahasa Madura? Bagaimana dengan mereka yang sudah tua?

Kumpulan careta pandha’ (carpan) Embi’ Celleng Ji Monentar (ECJM) karya M. Toyu Aradana ini menangkal tudingan itu. Tidak semua generasi muda seburuk yang ditudingkan sebagian kalangan. Kekhawatiran itu tidak baik dipelihara. Kecemasan tanpa solusi seperti meratapi hidup hingga mati.

Seperti orang tua dalam mendidik anak. Tidak baik mengecap anak nakal dan seabrek sebutan buruk lain. Orang tua tentu lebih paham bagaimana mengarahkan agar lebih baik. Tentu dengan bahasa yang baik.

Kuncinya, ada pada keteladanan. Tidak main suruh sana suruh sini. Tidak larang ini atau itu. Anak lebih butuh bagaimana sebaiknya.

1
2
3

BERITA LAINNYA
Tulis Komentar